Minggu, 28 April 2013

Karangan Non Ilmiah


 Karangan Non Ilmiah

1)     Definisi Karangan Non Ilmiah
Adalah satu ciri yang pasti ada dalam tulisan fiksi adalah isinya yang berupa kisah rekaan. Kisah rekaan itu dalam praktik penulisannya juga tidak boleh dibuat sembarangan, unsure-unsur sepenokohan, plot, konflik, klimaks, menyajikan fakta pribadi tentang pengetahuan dan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari, bersifat subyektif, tidak didukung fakta umum, dan biasanya menggunakan gaya bahasa yang popular atau biasa digunakan (tidak terlalu formal).

2)     Macam-macam Karangan Non Ilmiah
a)     Cerpen
b)     Dongeng
c)     Roman
d)     Novel
e)     Drama

3)     Ciri Karangan Non Ilmiah

a)     Emotif
b)     Persuatif
c)     Deskriptif Subjektif
d)     Kritik tanpa dukungan bukti

4)     Perbedaan Karangan Ilmiah dan Non Ilmiah
Pertama
Karya ilmiah harus merupakan pembahasan suatu hasil penelitian (faktual objektif). Faktual objektif adalah adanya kesesuaian antara fakta dan objek yang diteliti. Kesesuaian ini harus dibuktikan dengan pengamatan atau empiri.
Kedua
Karya ilmiah bersifat metodis dan sistematis. Artinya, dalam pembahasan masalah digunakan metode atau cara-cara tertentu dengan langkah-langkah yang teratur dan terkontrol melalui proses pengidentifikasian masalah dan penentuan strategi.
Ketiga
Dalam pembahasannya, tulisan ilmiah menggunakan ragam bahasa ilmiah. Dengan kata lain, ia ditulis dengan menggunakan kode etik penulisan karya ilmiah.
5)     Karangan Non Ilmiah
Biografi Dewi Sartika
 

Raden Ajeng Kartini lahir pada 21 April tahun 1879 di kota Jepara, Jawa Tengah. Ia anak salah seorang bangsawan yang masih sangat taat pada adat istiadat. Setelah lulus dari Sekolah Dasar ia tidak diperbolehkan melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi oleh orangtuanya. Ia dipingit sambil menunggu waktu untuk dinikahkan. Kartini kecil sangat sedih dengan hal tersebut, ia ingin menentang tapi tak berani karena takut dianggap anak durhaka. Untuk menghilangkan kesedihannya, ia mengumpulkan buku-buku pelajaran dan buku ilmu pengetahuan lainnya yang kemudian dibacanya di taman rumah dengan ditemani Simbok (pembantunya).
Akhirnya membaca menjadi kegemarannya, tiada hari tanpa membaca. Semua buku, termasuk surat kabar dibacanya. Kalau ada kesulitan dalam memahami buku-buku dan surat kabar yang dibacanya, ia selalu menanyakan kepada Bapaknya. Melalui buku inilah, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir wanita Eropa (Belanda, yang waktu itu masih menjajah Indonesia). Timbul keinginannya untuk memajukan wanita Indonesia. Wanita tidak hanya didapur tetapi juga harus mempunyai ilmu. Ia memulai dengan mengumpulkan teman-teman wanitanya untuk diajarkan tulis menulis dan ilmu pengetahuan lainnya. Ditengah kesibukannya ia tidak berhenti membaca dan juga menulis surat dengan teman-temannya yang berada di negeri Belanda. Tak berapa lama ia menulis surat pada Mr.J.H Abendanon. Ia memohon diberikan beasiswa untuk belajar di Negeri Belanda.
Beasiswa yang didapatkannya tidak sempat dimanfaatkan Kartini karena ia dinikahkan oleh orangtuanya dengan Raden Adipati Joyodiningrat. Setelah menikah ia ikut suaminya ke daerah Rembang. Suaminya mengerti dan ikut mendukung Kartini untuk mendirikan sekolah wanita. Berkat kegigihannya Kartini berhasil mendirikan Sekolah Wanita di Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah “Sekolah Kartini”. Ketenarannya tidak membuat Kartini menjadi sombong, ia tetap santun, menghormati keluarga dan siapa saja, tidak membedakan antara yang miskin dan kaya.

Pada tanggal 17 september 1904, Kartini meninggal dunia dalam usianya yang ke-25, setelah ia melahirkan putra pertamanya. Setelah Kartini wafat, Mr.J.H Abendanon memngumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan R.A Kartini pada para teman-temannya di Eropa. Buku itu diberi judul “DOOR DUISTERNIS TOT LICHT” yang artinya “Habis Gelap Terbitlah Terang”
Saat ini mudah-mudahan di Indonesia akan terlahir kembali Kartini-kartini lain yang mau berjuang demi kepentingan orang banyak. Di era Kartini, akhir abad 19 sampai awal abad 20, wanita-wanita negeri ini belum memperoleh kebebasan dalam berbagai hal. Mereka belum diijinkan untuk memperoleh pendidikan yang tinggi seperti pria bahkan belum diijinkan menentukan
Dewi Sartika (lahir di Bandung, 4 Desember 1884 – meninggal di Tasikmalaya, 11 September 1947 pada umur 62 tahun) adalah tokoh perintis pendidikan untuk kaum perempuan, diakui sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia tahun 1966. Ayahnya, Raden Somanagara adalah seorang pejuang kemerdekaan. Terakhir, sang ayah dihukum buang ke Pulau Ternate oleh Pemerintah Hindia Belanda hingga meninggal dunia di sana. Dewi Sartika dilahirkan dari keluarga priyayi Sunda , Nyi Raden Rajapermas dan Raden Somanagara. Meski melanggar adat saat itu, orang tuanya bersikukuh menyekolahkan Dewi Sartika, ke sekolah Belanda pula.
Sepeninggal ayahnya, Dewi Sartika dirawat oleh pamannya (kakak ibunya) yang berkedudukan sebagai patih di Cicalengka. Dari pamannya, beliau mendapatkan didikan mengenai kesundaan, sedangkan wawasan kebudayaan Barat diperolehnya dari berkat didikan seorang nyonya Asisten Residen bangsa Belanda. Sejak kecil, Dewi Sartika sudah menunjukkan bakat pendidik dan kegigihan untuk meraih kemajuan. Sambil bermain di belakang gedung kepatihan, beliau sering memperagakan praktik di sekolah, mengajari baca-tulis, dan bahasa Belanda, kepada anak-anak pembantu di kepatihan. Papan bilik kandang kereta, arang, dan pecahan genting dijadikannya
Alatbantubelajar.

Raden Dewi Sartika yang mengikuti pendidikan Seko lah Dasar di Cicalengka, sejak kecil memang sudah menunjukkan minatnya di bidang pendidikan. Dikatakan demikian karena sejak anak-anak ia sudah senang memerankan perilaku seorang guru. Sebagai contoh, sebagaimana layaknya anak-anak, biasanya sepulang sekolah, Dewi kecil selalu bermain sekolah-sekolahan dengan teman-teman anak perempuan sebayanya, ketika itu ia sangat senang berperan sebagai guru. Waktu itu Dewi Sartika baru berumur sekitar sepuluh tahun, ketika Cicalengka digemparkan oleh kemampuan baca-tulis dan beberapa patah kata dalam bahasa Belanda yang ditunjukkan oleh anak-anak pembantu kepatihan. Gempar, karena di waktu itu belum banyak anak-anak (apalagi anak rakyat jelata) memiliki kemampuan seperti  
Itu dab diajarkan oleh seorang perempuan.

Berpikir agar anak-anak perempuan di sekitarnya bisa memperoleh kesempatan menuntut ilmu pengetahuan, maka ia berjuang mendirikan sekolah di Bandung, Jawa Barat. Ketika itu, ia sudah tinggal di Bandung. Perjuangannya tidak sia-sia, dengan bantuan R.A.A.Martanegara, kakeknya, dan Den Hamer yang menjabat Inspektur Kantor Pengajaran ketika itu, maka pada tahun 1904 dia berhasil mendirikan sebuah sekolah yang dinamainya “Sekolah Isteri”. Sekolah tersebut hanya dua kelas sehingga tidak cukup untuk menampung semua aktivitas sekolah. Maka untuk ruangan belajar, ia harus meminjam sebagian ruangan Kepatihan Bandung. Awalnya, muridnya hanya dua puluh orang. Murid-murid yang hanya wanita itu diajar berhitung, membaca, menulis, menjahit, merenda, menyulam dan pelajaran agama.
Sekolah Istri tersebut terus mendapat perhatian positif dari masyarakat. Murid- murid bertambah banyak, bahkan ruangan Kepatihan Bandung yang dipinjam sebelumnya juga tidak cukup lagi menampung murid-murid. Untuk mengatasinya, Sekolah Isteri pun kemudian dipindahkan ke tempat yang lebih luas. Seiring perjalanan waktu, enam tahun sejak didirikan, pada tahun 1910, nama Sekolah Istri sedikit diperbarui menjadi Sekolah Keutamaan Isteri. Perubahan bukan cuma pada nama saja, tapi mata pelajaran juga bertambah.
Ia berusaha keras mendidik anak-anak gadis agar kelak bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik, bisa berdiri sendiri, luwes, dan terampil. Maka untuk itu, pelajaran yang berhubungan dengan pembinaan rumah tangga banyak diberikannya. Untuk menutupi biaya operasional sekolah, ia membanting tulang mencari dana. Semua jerih payahnya itu tidak dirasakannya jadi beban, tapi berganti menjadi kepuasan batin karena telah berhasil mendidik kaumnya. Salah satu yang menambah semangatnya adalah dorongan dari berbagai pihak terutama dari Raden Kanduruan Agah Suriawinata, suaminya, yang telah banyak membantunya mewujudkan perjuangannya baik tenaga maupun pemikiran.
Pada tahun-tahun berikutnya di beberapa wilayah Pasundan bermunculan beberapa Sakola Istri, terutama yang dikelola oleh perempuan-perempuan Sunda yang memiliki cita-cita yang sama dengan Dewi Sartika. Pada tahun 1912 sudah berdiri sembilan Sakola Istri di kota-kota kabupaten (setengah dari seluruh kota kabupaten se-Pasundan). Memasuki usia ke-sepuluh, tahun 1914, nama sekolahnya diganti menjadi Sakola Kautamaan Istri (Sekolah Keutamaan Perempuan). Kota-kota kabupaten wilayah Pasundan yang belum memiliki Sakola Kautamaan Istri tinggal tiga/empat, semangat ini menyeberang ke Bukittinggi, di mana sakola kautamaan istri didikan oleh Encik Rama Saleh.
Seluruh wilayah Pasundan lengkap memiliki Sakola Kautamaan Istri di tiap kota kabupatennya pada tahun 1920, ditambah beberapa yang berdiri di kota kewedanaan. Bulan September 1929, Dewi Sartika mengadakan peringatan pendirian sekolahnya yang telah berumur 25 tahun, yang kemudian berganti nama menjadi "Sakola Raden Déwi". Atas jasanya dalam bidang ini, Dewi Sartika dianugerahi bintang jasa olehpemerintah Hindia-Belanda.

Tahun 1906, Dewi Sartika menikah dengan Raden Kanduruan Agah Suriawinata, seseorang yang memiliki visi dan cita-cita yang sama, guru di Sekolah Karang Pamulang, yang pada waktu itu merupakan Sekolah Latihan Guru. Dewi Sartika meninggal 11 September 1947 di Tasikmalaya, dan dimakamkan dengan suatu upacara pemakaman sederhana di pemakaman Cigagadon-Desa Rahayu Kecamatan Cineam. Tiga tahun kemudian dimakamkan kembali di kompleks Pemakaman Bupati Bandung di Jalan Karang Anyar, Bandung.
Jangan tanya apa yang telah diberikan negara kepadamu, tapi apa yang telah kamu berikan pada negaramu. Kata bijak tersebut sangat tepat menjadi panduan semua bangsa yang hendak menobatkan seseorang sebagai penerima gelar kehormatan ‘pahlawan’ di negaranya.
Terlepas dari bentuk atau cara perjuangannya, seorang pahlawan pasti telah berbuat sesuatu yang heroik untuk bangsanya sesuai kondisi zamannya. Demikian halnya dengan Raden Dewi Sartika. Jika pahlawan lain melakukan perjuangan untuk bangsanya melalui perang frontal seperti angkat senjata, Dewi Sartika memilih perjuangan melalui pendidikan, yakni dengan mendirikan sekolah. Berbagai tantangan, khususnya di bidang pendanaan operasional sekolah yang didirikannya sering dihadapinya. Namun berkat kegigihan dan ketulusan hatinya untuk membangun masyarakat negerinya, sekolah yang didirikannya sebagai sarana pendidikan kaum wanita bisa berdiri terus, bahkan menjadi panutan di daerah lainnya.
Sumber :



Jumat, 26 April 2013

KARANGAN ILMIAH


KARANGAN ILMIAH
1)     Pengertian Karangan Ilmiah

karangan ilmiah adalah karangan ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta dan ditulis menurut metodologi penulisan yang baik dan benar.

2)     Macam-macam Karangan Ilmiah

a.      Skripsi
Suatu karya tulis Ilmiah yang dibuat oleh Mahasiswa untuk memenuhi syarat mendapat gelar Sarjana (S1).

b.     Tesis
karya tulis ilmiah resmi akhir seorang mahasiswa dalam menyelesaikan Program Magister (S2). Tesis merupakan bukti kemampuan yang bersangkutan dalam penelitian dan pengembangan ilmu pada salah satu bidang keilmuan dalam Ilmu Pendidikan.

c.      Desertasi
karya tulis ilmiah resmi akhir seorang mahasiswa dalam menyelesaikan program S3 ilmu pendidikan. Disertasi merupakan bukti kemampuan yang bersangkutan dalam melakukan penelitian yang berhubungan dengan penemuan baru dalam salah satu disiplin ilmu pendidikan.

3)     Jenis-jenis karangan ilmiah

a.      Riset Berdasarkan Cara Pengumpulan Data
b.     Riset Berdasarkan Prosesnya
c.      Riset Berdasarkan Metode Analisa

4)     Sifat Karangan Ilmiah

a.      Lugas dan tidak emosional
b.     Logis
c.      Efektif
d.     Efisien
e.      Ditulis dengan bahasa Indonesia yang baku

5)     Perbedaan Karangan Ilmiah

a.      karya ilmiah harus merupakan pembahasan suatu hasil penelitian (faktual objektif).
b.     karya ilmiah bersifat metodis dan sistematis.
c.      dalam pembahasannya, tulisan ilmiah menggunakan ragam bahasa ilmiah.

6)     Contoh Karangan Ilmiah
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang Masalah

Di era globalisasi dengan berbagai macam teknologi yang semakin maju, tentu sangat mempengaruhi di dalam dunia perusahaan. sekarang ini banyak sekali perusahaan-perusahaan yang maju walaupun persaingan antar perusahaan sangat ketat dan tinggi. Perusahaan akan meninjau terlebih dahulu SDM ( Sumber Daya Manusia) disaat ini, mungkin dizaman sekarang banyak sekali SDM yang berkualitas karena mereka saat ini mengutamakan pendidikan yang setinggi-tingginya. Mereka menempuh pendidikan yang tinggi agar mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan keinginan. Tapi kenyataannya di era globalisasi ini banyak sekali karyawan yang tidak sesuai dengan jurusan yang mereka tempuh, yang diutamakan sekarang adalah softskillnya. Jika suatu karyawan mempunyai softskill yang baik tentu akan berpengaruh pada kualitas kerja karyawan yang sangat baik. Maka dari itu perusahaan akan merekrut karyawan dengan selektif agar bisa menjadi suatu karyawan loyal didalam suatu perusahaan sehingga menciptakan suatu produktivitas yang tinggi untuk di pasaran. Loyalitas adalah suatu kesetiaan terhadap pekerjaan yang sedang dijalani dengan penuh tanggung jawab dan patuh akan suatu profesi.
Suatu perusahaan mendapatkan keuntungan dan bisa berkembang apabila mempunyai karyawan yang produktif, tetapi apabila mempunyai karyawan yang tidak produktif mana mungkin suatu perusahaan dapat berkembang dan bersaing dengan pesat. Perusahaan sering juga menyebutkan bahwa karyawan sebagai investasi yang tinggi yang dapat memberikan keuntungan yang besar bagi perusahaan. Perusahaan sering kali fokus terhadap pada upaya peningkatan target, sehingga ini dapat menimbulkan efek bagi karyawan. Efek tersebut seperti menganggap karyawan seperti mesin yang terus menerus dalam bekerja. Seharusnya perusahaan memperhatikan para karyawan karena mereka merupakan sumber daya manusia, maka dari itu perusahaan harus dapat menjaga dan dapat memotivasi para karyawan agar tetap produktif. Prduktivitas perusahaan itu di pengaruhi oleh produktivitas karyawan juga, perusahaan harus tetap menjaga karyawan yang produktif agar tetap nyaman di perusahaan tersebut. Produktivitas karyawan tidak hanya didukung di faktor dalam tetapi harus dari faktor luar juga. karyawan biasanya termotivasi oleh beberapa faktor seperti: Kompensasi, penghargaan, karier, dsb.
Salah satu usaha perusahaan untuk meningkatkan kinerja bagi karyawannya dengan cara memberikan kompensasi. Kompensasi merupakan yang diterima pekerja selama bekerja di perusahaan atau ditempat kerja tersebut. Kompensasi tersebut baik berupa gaji, upah, insentif, penghargaan, dll. Faktor kompensasi tersebut sangat berpengaruh terhadap karyawan karena membuat semangat karyawan dalam menyelesaikan pekerjaannya. Yang mempengaruhi kompensasi seperti: Penawaran dan Permintaan Tenaga Kerja, kemampuan untuk membayar, produktivitas, dll. Apabila karyawan memandang kompensasi mereka tidak memadai, maka prestasi kerja, motivasi maupun kepuasan kerja mereka dapat menurun secara dramatis. Kompensasi harus diperhatikan sungguh-sungguh, karena mencerminkan kepedulian suatu perusahaan terhadap karyawan. Jadi kompensasi ini sangat penting dalam perannya suatu perusahaan, karena mencakup dalam meningkatkan hasil outputnya hasil produksi yang baik.

Loyalitas akan membentuk  karakter diri dan tanggung jawab dengan sempurna. Loyalitas karyawan merupakan suatu pengabdian atau kesetiaan seorang pekerja pada tempat dimana bekerja demi profesi yang ingin dicapainya. Jika loyalitas seorang karyawan baik pada suatu perusahaan maka akan berpengaruh pada produktivitas perusahaan, tentu saja ini merupakan suatu kemajuan yang baik bagi perusahaan dalam memproduksi produk yang akan di pasarkan. Kualitas karyawan bisa dilihat dari disiplin kerja dalam sehari-hari, jika disiplin kerja karyawan dengan tinggi maka dapat meningkatkan input produk perusahaan yang mendatangkan profit. Karena karyawan adalah aset yang dimiliki perusahaan yang akan memajukan perusahaan tersebut. maka dari itu perusahaan harus memperhatikan karyawan-karyawannya yang bekerja dengan baik dengan cara memotivasi baik berupa upah, insentif, memberikan kesempatan kepada karyawan untuk maju, memberikan rasa aman, memberikan fasilitas dan penghargaan. Dengan cara seperti inilah akan muncul timbal balik dari karyawan bagi perusahaan, tentu saja perusahaan akan menghasilkan suatu produksi yang baik di pasaran. Akan tetapi tidak semua karyawan di perusahaan itu loyal, sehingga akan membuat pekerjaan menjadi tidak produktif dengan efek jangka panjang pada kinerja dan produktivitas perusahaan, tapi bagi karyawan yang tidak loyal pasti ada suatu pelatihan. Dalam latihan ini akan membentuk psikologis menjadi tanggung jawab.
Produktivitas adalah sebagai perbandingan antara keluaran (ouput) dengan masukan   (input), menurut Hasibuan prastyo dan wahyudi,2006). Suatu produktivitas akan mengalami kenaikan jika ada sistem kerja, efiensi (waktu, bahan, tenaga), teknik produksi, keterampilan tenaga kerja. Produktivitas dapat dilihat hubungan antara waktu dan hasil yang diperlukan untuk menyelesaikan, semakin singkat waktu yang diperlukan untuk mencapai hasil yang diingikan maka sistem akan menjadi produktif. Peningkatan produktivitas memerlukan komitmen untuk perbaikan terus menerus yang melibatkan secara seimbang antar aspek manusia (motivasi) dan aspek teknologi (teknik). Setiap upaya perbaikan produktivitas akan mengurangi pemborosan yang ada dalam sistem, sehingga biaya per unit produk akan berkurang. Didalam produktivitas harus ada pengukuran produktivitas agar dapat membandingkan dengan produktivitas standar di perusahaan lain. Produktivitas harus mengacu pada kebutuhan langsung dari perusahaan berkaitan dengan tujuan perbaikan produktivitas dari perusahaan itu sendiri. Di dalam sumber daya manusia (human resource department) ketika akan menetapkan pengukuran produktivitas dilihat dari konsep kualitas, efektifitas, dan efiensi sumber daya manusia.
1.2  Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah:
1.     Apakah ada hubungannya loyalitas karyawan dengan produktivitas perusahaan?
2.     Apakah ada faktor-faktor yang mempengaruhi didalam produktivitas dan loyalitas karyawan?
3.     Apakah karyawan yang loyal akan mendapatkan suatu timbal balik dari perusahaan?
4.     Sesuai apa tidak kompensasi yang diterima karyawan selama bekerja?

1.3  Batasan Masalah
Dalam penelitian ini saya akan menekankan Produktivitas perusahaan, loyalitas karyawan dan kompensasi yang diterima karyawan selama bekerja di perusahaan tersebut.

1.4  Tujuan Penelitian
1.Untuk menguji loyalitas karyawan di perusahaan Untuk menguji pengaruh dominan produktivitas dengan menggunakan emperik.
2.Untuk melakukan pengkajian pengaruh kompensasi terhadap produktivitas karyawan pada

1.5 Manfaat Penelitian
a) Agar penulis dapat mengetahui tentang suatu loyalitas, kompensasi yang berpengaruh terhadap produktivitas.
b) Dapat memberikan manfaat bagi perusahaan tersebut dalam memperhatikan karyawan-karyawannya.
c) Dapat meningkatkan semangat kerja karyawan di perusahaan tersebut.
d) Pembaca dapat mengetahui dan menambah wawasan tentang  produktivitas dan loyalitas karyawan.
1.6  Data dan Variabel
1)     Data penelitian
Data yang digunakan didalam penelitian ini :
a.      Data Primer adalah suatu data yang diperoleh penulis dengan cara observasi baik berupa kuesioner maupun wawancara secara langsung sesuai dengan kebutuhan didalam penelitian ini.
b.     Data Sekunder adalah data yang diperoleh oleh penulis dari dokumen perusahaan langsung,
2)     Variabel Penelitian
Variable-variabel yang digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut :
1)     X    ( Loyalitas )
2)     Y    ( Produktivitas )
3)     X1  (Kesejahteraan Karyawan)
4)     X2  ( Kompensasi )
5)     X3  ( Motivasi )

Sumber :